“Hoaaaaaaammmm…..”. Rasya menguap lebar.
“Aduh, kamu kalo menguap ya di tutup donk dek.” Protes Sabil pada adiknya.
“Kenapa sih Kak ? Masalah sepele ajah kok di bikin ribut, aku kan cuma menguap Kak.” Tak mau kalah dengan sang kakak, Rasya pun membela diri.
“Ck ck ck… dek, kamu pernah dengar tidak kalau Allah itu tidak suka dengan menguap?” Tanya Sabil
Dengan rasa heran, Rasya menjawab, “Kayaknya aku pernah dengar deh Kak.”
Sabil tersenyum mendekati adiknya yang kebingungan, “zaman sekarang banyak kebiasaan kecil yang luput dari perhatian kaum muslim, masalah kebiasaan yang sebenarnya telah di ajarkan Rasulullah sebagai tauladan terbaik kita, termasuk masalah menguap tadi.”
“Terus Kak ?” Tanya Rasya bersemangat.
“Dalam hadits di sebutkan “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin [1].”
“Jadi, walaupun tidak tahan ingin menguap lebar, sebaiknya di tutup gitu Kak ?”
“Nah, itu kamu tahu, terus kenapa kamu tidak menutup mulutmu ?”
“Hehehe, aku pikir itu hanya masalah sepele Kak.”
“Itu dia, banyak orang tidak memperhatikan masalah ini. Memang terlihat sepele tapi dalam Islam hal sepele pun sudah diatur dengan sebaik-baiknya. “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya [2].” Sabil menjelaskan panjang lebar.
“Wuih, serem ya Kak, di ketawain ma setan.” Kata Rasya sambil bergidik.
“Iya dek, padahal menurut kakak tidak sulit loh hanya mengangkat tangan dan menutup mulut ketika menguap, tidak melelahkan sama sekali.”Sabil menegaskan.
“Jadi usahakan di mulai dari hal kecil kita memperhatikan perilaku kita supaya elok di pandang orang dan Allah suka itu.” Sabil menambahkan.
“Padahal Rasya juga kalau melihat orang yang menguap lebar di depan banyak orang terus dia tidak menutup mulutnya sampai terlihat semua isi mulutnya kok rasanya gimana gitu Kak, tidak enak di lihat, apalagi kalau misalkan sebelumnya dia makan sesuatu yang menimbulkan bau…. Uuuhh… mantap sekali pasti aromanya.” Papar Rasya sambil terkekeh.
“Tuh kan, kamu saja tidak suka melihat orang lain menguap lebar tanpa di tutup, makanya mulai sekarang kamu juga harus merubah kebiasaan burukmu itu.” Kata Sabil menasihati Rasya.
“Hhmm… iya ya Kak. Aku sampai mikir gimana ya jadinya kalau aku menguap lebar terus tidak aku tutup, eehh ada binatang masuk ke mulutku…” Rasya pun menerawang.
“Hahahahahaha…. Pastinya itu bakal jadi santapan gratis mu dek.” Sabil tertawa lebar.
“Kakak juga jangan tertawa terlalu lebar, nanti ada nyamuk masuk loh.” Rasya tidak mau kalah.
“Uppss.” Sabil pun refleks menutup mulutnya kemudian tersenyum.
“Semakin bangga aku menjadi generasi muslim. Indah banget Islam itu ya Kak. Sampai hal kecil pun tidak luput dari ajarannya.”
“That’s right my brother.” Jawab Sabil
“Oh iya Kak, tadi kakak juga menyebutkan juga tentang bersin. Itu gimana Kak ?” Rasya penasaran.
“Iya dek, kalau menguap adalah hal yang Allah tidak suka, makanya harus menahannya sebisa mungkin atau menutup mulut tatkala menguap. Kalau bersin, kita di haruskan mengucapkan hamdalah dan orang yang mendengarnya mendoakan.”
“Baca yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) ya untuk yang mendengarnya, lalu dibalas lagi oleh yang bersin yahdikumullah (semoga Allah memberikanmu petunjuk). Benar tidak Kak ?”
Belum sempat Sabil menjawab, Rasya kembali memberondongnya dengan pertanyaan.
“Kalau ada yang bersin lalu tidak membaca Hamdalah, berarti kita tidak wajib mendoakannya ya Kak ?”
“Benar dek baca doanya seperti itu dan memang tidak wajib mendoakan orang bersin yang tidak membaca hamdalah. Ada hadits seperti ini “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka datanglah, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah nasihat, jika ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya [3].”
“Hmmm….”
“Kalau sedang shalat lalu bersin gimana Kak?”
“Di haruskan pula mengucapkan lafazh hamdalah dek.”
“Kalau orang flu kan biasanya bersin-bersin terus tuh Kak. Apa harus terus mengucap hamdalah ?”
“Bersin karena sakit itu beda dek. Untuk pertama kita membaca hamdalah, kalau memang kemudian bersinnya terus menerus yang mengindikasikan flu maka tak wajib terus membaca hamdalah.”
“Oh gitu ya Kak.” Jawab Rasya sembari manggut-manggut.
“Jangan lupa ya dek, menutup mulut jika bersin dan menahan suaranya.”
“Pasti donk Kak, kalau tidak di tutup mulutnya, bisa-bisa ada banjir kiriman lagi…. Hahahahaha…” Tawa Rasya menggelegar.
“… hahahahahaha…” Sabil pun ikut tertawa mendengar penuturan adik semata wayangnya yang kini telah memasuki jenjang SMP kelas satu.
“Kak, aku mau tanya lagi.”
“Apa dek ?”
“Aku bingung nih. Allah tidak suka orang yang menguap tapi Allah suka bersin. Kenapa bisa begitu Kak ?” Tanya Rasya
“Bagus dek. Itu pertanyaan yang bagus sekali. Adik kakak sudah mulai kritis nih.” Puji Sabil kepada adiknya.
“Kakak nih bisa saja. Aku jadi malu…”
“Jawab donk ka pertanyaanku.”
Rasya terlihat tidak sabar mendengar apa yang akan di sampaikan kakaknya yang terpaut usia tujuh tahun dengannya.
“Singkatnya begini dek… Kalau menguap itu biasanya di sebabkan karena makan yang berlebihan, jadi Allah kurang suka makanya di katakan Allah tidak menyukai menguap. Karena makan berlebihan itu menimbulkan kemalasan dalam beribadah. Dan berlebihan adalah hal yang di sukai setan. Tapi kenyataannya kan, menguap itu tidak hanya karena berlebihan dalam makanan bisa juga karena mengantuk. Jadi sebaiknya tahan sebisanya jika menguap dan menutup mulut.”
“…. Terus kenapa bersin itu di sukai Allah, karena bersin itu dapat menyehatkan badan, menghilangkan keinginan untuk mengenyangkan perut dan membuat semangat untuk beribadah [4].”
Rasya manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya.
“ Sip deh Kak. Hari ini aku dapat ilmu baru. Makasih banyak ya Kak.”
“Sama-sama Rasya.”
Dan keduanya saling melempar senyum.
—
Catatan Kaki:
1. HR. Muslim
2. HR. Bukhari
3. HR. Muslim
4. www.muslimah.or.id
"....Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya..."
Selasa, 13 Maret 2012
Senin, 12 Maret 2012
Butiran Hikmah yang bertebaran
Impian adalah harapan yang memang sudah sewajarnya dimiliki oleh setiap manusia. Memiliki banyak cita-cita dapat menjadi motivasi untuk terus berusaha dan bekerja keras. Tetapi ada kalanya, ketika usaha telah maksimal, harta telah dikeluarkan, pikiran dan tenaga telah dikuras, ternyata cita-cita tak kunjung diraih. Tak jarang kekecewaan menjadi akhir perjuangan.
Namun kenyataannya tidak semua mereka yang gagal larut dalam kekecewaan. Sebagian dari mereka bahkan seolah mendapat suntikan semangat berlipat-lipat dari sebelumnya. Tak ada tempat untuk kata putus asa dan berhenti berusaha. Apa rahasianya?
Pandai meraih hikmah. Ini adalah salah-satu kunci ketenangan di antara berbagai kegagalan yang dihadapi. Akan tetapi sangat dibutuhkan kejernihan hati dan kekuatan iman untuk dapat menangkap hikmah-hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap kejadian, karena memang tidak semua orang dapat meraih hikmah. Proses pencarian hikmah pun sangat beragam. Ada yang berhasil dalam waktu singkat, namun ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Berikut beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk menangkap butir-butir hikmah yang bertebaran.
Pertama, Meyakini ketetapan Allah adalah yang terbaik
Sahabat, ketahuilah ketika kita menyusun rencana dan cita-cita, Allah SWT sesungguhnya juga telah memiliki rencana untuk kita. Kita mempunyai keinginan dan Allah pun mempunyai kehendak. Yang perlu kita pahami, Allah yang dengan kebesaranNya telah menciptakan kita dan Allah pulalah yang Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, kesanggupan, serta segala sesuatu yang baik atau buruk bagi kita. Sehingga suatu kepastian bahwa akhirnya kehendak Allahlah yang akan berlaku. Mungkin tidak akan menjadi masalah ketika keinginan kita selaras dengan kehendak Allah. Namun akan berbeda halnya jika keinginan kita berbeda dengan kehendak Allah. Jika hal ini terjadi, maka tugas kita adalah bagaimana menyelaraskan keinginan sesuai dengan kehendak Allah. Allah mengetahui segalanya tentang kehidupan kita, sehingga apapun yang Allah tetapkan tentu merupakan yang terbaik berdasarkan pandanganNya. Sementara pandangan kita sangat terbatas. Segala rencana yang kita susun hanyalah prediksi yang kita sendiri belum memahami benar baik buruknya untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah (216) yang artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Boleh jadi dalam pandangan kita apa yang Allah berikan saat ini terasa jauh dari kebaikan. Namun percayalah bahwa pemberian Allah inilah justru yang nantinya akan mengantar kita pada kesuksesan, sehingga tidak ada pilihan selain melantunkan syukur atas karunia dan nikmatnya. Meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dapat menentramkan jiwa. Dengan hati yang tenang dan yakin Insya Allah akan semakin mudah bagi kita untuk memahami hikmah dari Nya.
Kedua, Evaluasi
Ketika kegagalan menjadi muara perjuangan, jarang sekali orang memanfaatkan momentum ini untuk melakukan evaluasi. Ada di antaranya yang sibuk menyalahkan keadaan, nasib, atau lebih parahnya lagi mengatakan Tuhan tidak adil (na’udzubillah). Padahal jika bersedia berevaluasi dan berani mengakui kesalahan, tentu akan ada banyak pelajaran yang dapat diraih. Usaha yang belum sepenuhnya sesuai syariat, hati yang kurang ikhlas, atau doa yang masih tidak didasarkan keyakinan mungkin merupakan beberapa sebab ketidakberhasilan kita dalam meraih keinginan. Setelah mengakui kesalahan, kita juga harus bertekad untuk melakukan perbaikan. Ingatlah, ketika keberhasilan kita dapatkan, sementara hati masih jauh dari keikhlasan, maka pintu kesombongan akan semakin terbuka lebar. Sedangkan sudah jelas sabda Rasulullah di dalam sebuah hadits
“Tidaklah akan masuk syurga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan At Tirmidzi).
Mungkin Allah ingin menyelamatkan kita dari kesombongan ini dengan menunda keberhasilan. Allah memberikan kesempatan untuk meluruskan kembali niat semata-mata karenaNya. Selanjutnya, jika kegagalan disebabkan oleh cara yang melanggar aturanNya, maka dengan keberanian mengakui kesalahan kita akan dapat menjadikannya pengalaman untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang. Bersyukurlah karena Allah memberikan peluang bagi kita untuk mencapai keberhasilan dengan usaha yang benar, hati dan niat yang lurus, sehingga keberhasilan yang kita capai tidak semata keberhasilan di dunia, melainkan juga kesuksesan yang diiringi dengan keridhaannya. Maka, jangan ragu untuk melakukan evaluasi. Semoga dengan hal ini pandangan kita semakin jelas, sehingga cahaya hikmah dapat kita kenali dengan mudah.
Ketiga, Berdoa kepada sang pemilik hati
Allah SWT adalah pencipta sekaligus pemilik segala yang ada di dunia. Kita sebagai makhluk ciptaanNya sudah pasti sepenuhnya menjadi milik Allah, termasuk di dalamnya hati kita. Sebagai pemilik, Allah mempunyai kuasa penuh atas apapun yang terjadi pada hati kita. Keimanan yang hadir, rasa syukur yang tumbuh, rasa cinta kepadaNya, atau berbagai karunia lain adalah semata karena kehendak Allah. Begitu pun jika kita sangat merindukan hikmah dari kejadian yang kita alami, maka setelah mengoptimalkan usaha, doa merupakan salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Mohonlah kepada Allah agar Ia berkenan membuka hati kita untuk dapat meraih hikmah. Dengan doa yang tulus dan penuh keyakinan, Insya Allah pintu hati akan terbuka dan berbagai hikmah akan masuk ke dalamnya.
Sahabat, kita akan merasakan betapa indahnya hidup ketika setiap kejadian mampu memperlihatkan hikmahnya. Ketika kegagalan justru mengundang syukur yang mendalam. Untuk itu, mari sempurnakan usaha serta tingkatkan doa kepadaNya. Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk menangkap butiran hikmah yang cahayanya mampu menerangi hati.
Wallahu’alam.
Namun kenyataannya tidak semua mereka yang gagal larut dalam kekecewaan. Sebagian dari mereka bahkan seolah mendapat suntikan semangat berlipat-lipat dari sebelumnya. Tak ada tempat untuk kata putus asa dan berhenti berusaha. Apa rahasianya?
Pandai meraih hikmah. Ini adalah salah-satu kunci ketenangan di antara berbagai kegagalan yang dihadapi. Akan tetapi sangat dibutuhkan kejernihan hati dan kekuatan iman untuk dapat menangkap hikmah-hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap kejadian, karena memang tidak semua orang dapat meraih hikmah. Proses pencarian hikmah pun sangat beragam. Ada yang berhasil dalam waktu singkat, namun ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Berikut beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk menangkap butir-butir hikmah yang bertebaran.
Pertama, Meyakini ketetapan Allah adalah yang terbaik
Sahabat, ketahuilah ketika kita menyusun rencana dan cita-cita, Allah SWT sesungguhnya juga telah memiliki rencana untuk kita. Kita mempunyai keinginan dan Allah pun mempunyai kehendak. Yang perlu kita pahami, Allah yang dengan kebesaranNya telah menciptakan kita dan Allah pulalah yang Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, kesanggupan, serta segala sesuatu yang baik atau buruk bagi kita. Sehingga suatu kepastian bahwa akhirnya kehendak Allahlah yang akan berlaku. Mungkin tidak akan menjadi masalah ketika keinginan kita selaras dengan kehendak Allah. Namun akan berbeda halnya jika keinginan kita berbeda dengan kehendak Allah. Jika hal ini terjadi, maka tugas kita adalah bagaimana menyelaraskan keinginan sesuai dengan kehendak Allah. Allah mengetahui segalanya tentang kehidupan kita, sehingga apapun yang Allah tetapkan tentu merupakan yang terbaik berdasarkan pandanganNya. Sementara pandangan kita sangat terbatas. Segala rencana yang kita susun hanyalah prediksi yang kita sendiri belum memahami benar baik buruknya untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah (216) yang artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Boleh jadi dalam pandangan kita apa yang Allah berikan saat ini terasa jauh dari kebaikan. Namun percayalah bahwa pemberian Allah inilah justru yang nantinya akan mengantar kita pada kesuksesan, sehingga tidak ada pilihan selain melantunkan syukur atas karunia dan nikmatnya. Meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dapat menentramkan jiwa. Dengan hati yang tenang dan yakin Insya Allah akan semakin mudah bagi kita untuk memahami hikmah dari Nya.
Kedua, Evaluasi
Ketika kegagalan menjadi muara perjuangan, jarang sekali orang memanfaatkan momentum ini untuk melakukan evaluasi. Ada di antaranya yang sibuk menyalahkan keadaan, nasib, atau lebih parahnya lagi mengatakan Tuhan tidak adil (na’udzubillah). Padahal jika bersedia berevaluasi dan berani mengakui kesalahan, tentu akan ada banyak pelajaran yang dapat diraih. Usaha yang belum sepenuhnya sesuai syariat, hati yang kurang ikhlas, atau doa yang masih tidak didasarkan keyakinan mungkin merupakan beberapa sebab ketidakberhasilan kita dalam meraih keinginan. Setelah mengakui kesalahan, kita juga harus bertekad untuk melakukan perbaikan. Ingatlah, ketika keberhasilan kita dapatkan, sementara hati masih jauh dari keikhlasan, maka pintu kesombongan akan semakin terbuka lebar. Sedangkan sudah jelas sabda Rasulullah di dalam sebuah hadits
“Tidaklah akan masuk syurga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan At Tirmidzi).
Mungkin Allah ingin menyelamatkan kita dari kesombongan ini dengan menunda keberhasilan. Allah memberikan kesempatan untuk meluruskan kembali niat semata-mata karenaNya. Selanjutnya, jika kegagalan disebabkan oleh cara yang melanggar aturanNya, maka dengan keberanian mengakui kesalahan kita akan dapat menjadikannya pengalaman untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang. Bersyukurlah karena Allah memberikan peluang bagi kita untuk mencapai keberhasilan dengan usaha yang benar, hati dan niat yang lurus, sehingga keberhasilan yang kita capai tidak semata keberhasilan di dunia, melainkan juga kesuksesan yang diiringi dengan keridhaannya. Maka, jangan ragu untuk melakukan evaluasi. Semoga dengan hal ini pandangan kita semakin jelas, sehingga cahaya hikmah dapat kita kenali dengan mudah.
Ketiga, Berdoa kepada sang pemilik hati
Allah SWT adalah pencipta sekaligus pemilik segala yang ada di dunia. Kita sebagai makhluk ciptaanNya sudah pasti sepenuhnya menjadi milik Allah, termasuk di dalamnya hati kita. Sebagai pemilik, Allah mempunyai kuasa penuh atas apapun yang terjadi pada hati kita. Keimanan yang hadir, rasa syukur yang tumbuh, rasa cinta kepadaNya, atau berbagai karunia lain adalah semata karena kehendak Allah. Begitu pun jika kita sangat merindukan hikmah dari kejadian yang kita alami, maka setelah mengoptimalkan usaha, doa merupakan salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Mohonlah kepada Allah agar Ia berkenan membuka hati kita untuk dapat meraih hikmah. Dengan doa yang tulus dan penuh keyakinan, Insya Allah pintu hati akan terbuka dan berbagai hikmah akan masuk ke dalamnya.
Sahabat, kita akan merasakan betapa indahnya hidup ketika setiap kejadian mampu memperlihatkan hikmahnya. Ketika kegagalan justru mengundang syukur yang mendalam. Untuk itu, mari sempurnakan usaha serta tingkatkan doa kepadaNya. Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk menangkap butiran hikmah yang cahayanya mampu menerangi hati.
Wallahu’alam.
Untuk-Mu seluruh nafas ini...
Kehidupan kita hari sangat luar biasa. Dari hal yang terkecil sampai yang terbesar merupakan keajaiban yang tak mampu di cerna oleh akal, tetapi dapat dipercaya dengan Qalbu. Penciptaan manusia contohnya, berawal hanya dari dipertemukannya air Mani dan sel ovum bisa menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS. At-Tin: 3)
Tidak hanya itu, tetapi juga disempurnakan dengan kadarnya masing-masing dengan sesuai kegunaan dan fungsi dari setiap yang di bentuk. Memberikan Mata untuk Melihat, telinga untuk mendengar, Kaki untuk melangkah, semuanya disempurnakan dan juga ditentukan kadar kegunaannya
Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (QS. Al-A’laa: 3-4)
Wajar jika hari ini kita patut bersyukur hanya kepada yang telah menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya. Tetapi apakah kita sebagai yang diciptakan telah banyak bersyukur? Sebuah pertanyaan besar yang mungkin jawabannya mayoritas adalah belum. Kita menyalahgunakan kenikmatan dan keajaiban yang telah Allah berikan, kita menjadikan napas yang berhembus untuk benda atau seseorang yang sesungguhnya mereka pun belum tentu bisa menolong dirinya sendiri. Terutama terhadap manusia, secara tidak sadar kita telah menyembah thagut dari orang yang kita cintai. Tanpa orang di cintai dan kehilangan mereka kita merasa diri menjadi tak berarti dan tak bermanfaat. Tanpa ada sapa dan pertemuan dengan yang dicintai merasa tak ada lagi semangat dan kehidupan terasa hampa dan sunyi. Kita menjadikan diri kita sangat berguna dan bermanfaat karena tujuan kita hanya ingin dilihat oleh seseorang yang di cintai, ketika mereka telah tiada atau tak lagi mencintai kita, maka kita tak lagi berusaha menjadi yang berguna dan bermanfaat,
Padahal kita telah mengikrarkan diri dan berjanji kepada Allah SWT dalam setiap shalat-shalat yang kita lakukan, apakah Doa yang kita ikrarkan?
Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiin.
Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
Maka rasa syukur kita kepada Allah SWT atas keajaiban yang diberikan dalam hidup kita adalah seluruh Napas yang berhembus hanyalah Untuk Allah SWT dan atas syariat yang Allah turunkan. Inilah yang paling mulia, sehingga kita bisa menjadi manusia bermanfaat sekalipun manusia memusuhi kita karena kita memiliki sang Rabb semesta Alam, Untuk-Mu Seluruh Napas ini patut di tujukan hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang selalu ingat dengan hambanya, kita menjadi manusia yang selalu berguna dan bermanfaat karena napas kita hanyalah untuk-Nya. Apalagi Allah akan memuliakan orang-orang yang menjadikan setiap hembusan napasnya hanya untuk mengabdi dan taat kepada Allah SWT. Bahkan kita akan merasakan kelezatan dalam hidup kita jika kita menjadikan dan mendedikasikan setiap napas ini hanya untuk Allah dan orang-orang yang mencintai Allah SWT.
“Kelezatan iman akan dirasakan oleh orang yang telah rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama.”
Mengutip dari Qadhi Iyadh, Imam Nawawi berkata: “Makna hadits ini adalah imannya benar, jiwanya tenang dan batinnya tenteram. Karena keridhaannya kepada hal-hal yang disebutkan itu merupakan bukti ma’rifatnya, ketajaman pandangannya dan keceriaan hatinya. Sebab orang yang ridha terhadap sesuatu pasti merasa mudah melakukannya. Demikian pula seorang mukmin, apabila iman telah masuk ke dalam hatinya maka akan mudah baginya melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan merasa lezat dengannya. Wallahu A’lam.”
Nabi SAW bersabda:
‘Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang, berarti telah merasakan lezatnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, mencintai seseorang karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu. Karena Allah Maha Pemberi balasan.”
Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan kelezatan, pencerahan dan ketenangan yang ada di hatinya. Bila belum merasakan hal tersebut, berarti amalnya terkontaminasi.
Maka Untuk-Mu seluruh Napas ini.
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS. At-Tin: 3)
Tidak hanya itu, tetapi juga disempurnakan dengan kadarnya masing-masing dengan sesuai kegunaan dan fungsi dari setiap yang di bentuk. Memberikan Mata untuk Melihat, telinga untuk mendengar, Kaki untuk melangkah, semuanya disempurnakan dan juga ditentukan kadar kegunaannya
Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (QS. Al-A’laa: 3-4)
Wajar jika hari ini kita patut bersyukur hanya kepada yang telah menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya. Tetapi apakah kita sebagai yang diciptakan telah banyak bersyukur? Sebuah pertanyaan besar yang mungkin jawabannya mayoritas adalah belum. Kita menyalahgunakan kenikmatan dan keajaiban yang telah Allah berikan, kita menjadikan napas yang berhembus untuk benda atau seseorang yang sesungguhnya mereka pun belum tentu bisa menolong dirinya sendiri. Terutama terhadap manusia, secara tidak sadar kita telah menyembah thagut dari orang yang kita cintai. Tanpa orang di cintai dan kehilangan mereka kita merasa diri menjadi tak berarti dan tak bermanfaat. Tanpa ada sapa dan pertemuan dengan yang dicintai merasa tak ada lagi semangat dan kehidupan terasa hampa dan sunyi. Kita menjadikan diri kita sangat berguna dan bermanfaat karena tujuan kita hanya ingin dilihat oleh seseorang yang di cintai, ketika mereka telah tiada atau tak lagi mencintai kita, maka kita tak lagi berusaha menjadi yang berguna dan bermanfaat,
Padahal kita telah mengikrarkan diri dan berjanji kepada Allah SWT dalam setiap shalat-shalat yang kita lakukan, apakah Doa yang kita ikrarkan?
Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiin.
Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
Maka rasa syukur kita kepada Allah SWT atas keajaiban yang diberikan dalam hidup kita adalah seluruh Napas yang berhembus hanyalah Untuk Allah SWT dan atas syariat yang Allah turunkan. Inilah yang paling mulia, sehingga kita bisa menjadi manusia bermanfaat sekalipun manusia memusuhi kita karena kita memiliki sang Rabb semesta Alam, Untuk-Mu Seluruh Napas ini patut di tujukan hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang selalu ingat dengan hambanya, kita menjadi manusia yang selalu berguna dan bermanfaat karena napas kita hanyalah untuk-Nya. Apalagi Allah akan memuliakan orang-orang yang menjadikan setiap hembusan napasnya hanya untuk mengabdi dan taat kepada Allah SWT. Bahkan kita akan merasakan kelezatan dalam hidup kita jika kita menjadikan dan mendedikasikan setiap napas ini hanya untuk Allah dan orang-orang yang mencintai Allah SWT.
“Kelezatan iman akan dirasakan oleh orang yang telah rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama.”
Mengutip dari Qadhi Iyadh, Imam Nawawi berkata: “Makna hadits ini adalah imannya benar, jiwanya tenang dan batinnya tenteram. Karena keridhaannya kepada hal-hal yang disebutkan itu merupakan bukti ma’rifatnya, ketajaman pandangannya dan keceriaan hatinya. Sebab orang yang ridha terhadap sesuatu pasti merasa mudah melakukannya. Demikian pula seorang mukmin, apabila iman telah masuk ke dalam hatinya maka akan mudah baginya melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan merasa lezat dengannya. Wallahu A’lam.”
Nabi SAW bersabda:
‘Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang, berarti telah merasakan lezatnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, mencintai seseorang karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu. Karena Allah Maha Pemberi balasan.”
Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan kelezatan, pencerahan dan ketenangan yang ada di hatinya. Bila belum merasakan hal tersebut, berarti amalnya terkontaminasi.
Maka Untuk-Mu seluruh Napas ini.
Senin, 05 Maret 2012
Dua penjual sepatu...
Ada dua orang sales marketing sepatu yang dikirim oleh dua perusahaan berbeda yang bersaing untuk memasarkan produk mereka di sebuah pedalaman. Setibanya di sana, dua sales ini tercengang karena penduduk asli pedalaman tersebut sama sekali tidak mengenal sepatu, mereka pergi ke mana-mana bertelanjang kaki. Sales dari perusahaan pertama langsung kehilangan harapan dan mengontak markas pusat. “Bos, pulangkan saja saya. Jualan sepatu di sini tidak akan laku, tidak satu orang pun mau memakai sepatu!” kata sales tersebut di ujung telepon.
Begitu juga sales marketing yang kedua, langsung menelepon markas pusatnya, bedanya sales ini menelepon dengan bersemangat dan berbinar-binar. “Bos, kita bahkan bisa bikin pabrik sepatu di sini! Pasar kita banyak, belum satu orang pun memiliki sepatu!”
Sales yang kedua beruntung karena menjadi seorang optimist. Sedangkan sales yang pertama tentu saja langsung didamprat habis-habisan oleh bosnya karena bosnya mengirimnya ke sana justru karena orang-orang pedalaman itu belum memakai sepatu.
Beberapa hari berselang, kedua sales itu diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Mereka mulai melakukan langkah-langkah sosialisasi. Sales yang pertama memasang spanduk-spanduk dan kios sepatu, kemudian berbicara tentang sepatu pada setiap orang yang ditemuinya. Sementara sales yang kedua terlihat bersantai-santai menikmati pemandangan dan bercengkerama dengan penduduk setempat.
Sales yang pertama mengadakan seminar-seminar tentang kesehatan kaki dan bahaya cacing tambang jika tidak memakai alas kaki. Namun dalam seminar-seminarnya tersebut, tanpa sadar sales itu sering sekali mengkritik penduduk setempat yang dianggapnya terbelakang karena belum memakai sepatu. Sementara itu sales yang kedua sibuk mempelajari kearifan lokal dan bersabar tidak membicarakan sedikit pun mengenai sepatu. Ia selalu mengagumi dan mensyukuri betapa beruntungnya penduduk setempat karena masih hidup sangat dekat dengan alam, jauh dari egoisme materialis, jauh dari pertikaian-pertikaian politik.
Pada minggu ketiga, sales yang pertama mulai kehilangan semangat karena orang-orang tidak mau mendengarkan ceramahnya mengenai sepatu. Jarak antara penduduk setempat dan sales yang pertama pun meregang. Sedangkan sales yang kedua? Setelah menikmati permainan-permainan lokal, sales kedua kemudian mengenalkan pada penduduk setempat permainan sepak bola. Tapi sales ini cerdik dan membuat sebuah peraturan yang tidak pernah diketahui oleh penduduk lokal, sepak bola harus dilakukan di lapangan penuh kerikil!
Pada minggu ke empat, tepat satu bulan setelah kedatangan kedua sales itu, sales kedua berhasil membuat setiap pria di desa tersebut membeli sepatunya. :),
Adapun sales yang pertama?
Dia pulang, setelah mengakui kehebatan sales yang kedua dan belajar darinya. Sales yang pertama dengan lapang dada mengakui kesalahan metodenya dan belajar menjalankan apa yang dipelajari dari sales yang kedua. Bahkan dia memaksimalkan manfaat dari kesalahannya tersebut dengan menceritakan pengalaman ini pada rekan-rekan salesnya. :)
Begitu juga sales marketing yang kedua, langsung menelepon markas pusatnya, bedanya sales ini menelepon dengan bersemangat dan berbinar-binar. “Bos, kita bahkan bisa bikin pabrik sepatu di sini! Pasar kita banyak, belum satu orang pun memiliki sepatu!”
Sales yang kedua beruntung karena menjadi seorang optimist. Sedangkan sales yang pertama tentu saja langsung didamprat habis-habisan oleh bosnya karena bosnya mengirimnya ke sana justru karena orang-orang pedalaman itu belum memakai sepatu.
Beberapa hari berselang, kedua sales itu diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Mereka mulai melakukan langkah-langkah sosialisasi. Sales yang pertama memasang spanduk-spanduk dan kios sepatu, kemudian berbicara tentang sepatu pada setiap orang yang ditemuinya. Sementara sales yang kedua terlihat bersantai-santai menikmati pemandangan dan bercengkerama dengan penduduk setempat.
Sales yang pertama mengadakan seminar-seminar tentang kesehatan kaki dan bahaya cacing tambang jika tidak memakai alas kaki. Namun dalam seminar-seminarnya tersebut, tanpa sadar sales itu sering sekali mengkritik penduduk setempat yang dianggapnya terbelakang karena belum memakai sepatu. Sementara itu sales yang kedua sibuk mempelajari kearifan lokal dan bersabar tidak membicarakan sedikit pun mengenai sepatu. Ia selalu mengagumi dan mensyukuri betapa beruntungnya penduduk setempat karena masih hidup sangat dekat dengan alam, jauh dari egoisme materialis, jauh dari pertikaian-pertikaian politik.
Pada minggu ketiga, sales yang pertama mulai kehilangan semangat karena orang-orang tidak mau mendengarkan ceramahnya mengenai sepatu. Jarak antara penduduk setempat dan sales yang pertama pun meregang. Sedangkan sales yang kedua? Setelah menikmati permainan-permainan lokal, sales kedua kemudian mengenalkan pada penduduk setempat permainan sepak bola. Tapi sales ini cerdik dan membuat sebuah peraturan yang tidak pernah diketahui oleh penduduk lokal, sepak bola harus dilakukan di lapangan penuh kerikil!
Pada minggu ke empat, tepat satu bulan setelah kedatangan kedua sales itu, sales kedua berhasil membuat setiap pria di desa tersebut membeli sepatunya. :),
Adapun sales yang pertama?
Dia pulang, setelah mengakui kehebatan sales yang kedua dan belajar darinya. Sales yang pertama dengan lapang dada mengakui kesalahan metodenya dan belajar menjalankan apa yang dipelajari dari sales yang kedua. Bahkan dia memaksimalkan manfaat dari kesalahannya tersebut dengan menceritakan pengalaman ini pada rekan-rekan salesnya. :)
Langganan:
Postingan (Atom)


